Pelaksana Bantah Pembangunan Dapur MBG Desa Nanga Dua Tidak Sesuai Standar, Warga Soroti Dugaan Material Kayu Tak Sesuai RAB

- Penulis

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:07

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jalurkhusus.com]

Kapuas Hulu,Kalbar,Pembangunan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Nanga Dua, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, menuai sorotan masyarakat. Warga menilai pembangunan tersebut diduga tidak sesuai standar teknis sebagaimana spesifikasi bangunan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang beredar di lapangan.

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menanggapi hal itu, pelaksana pembangunan, Eko, membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa pembangunan dapur MBG yang dikerjakan pihaknya tetap mengacu pada spesifikasi dan luasan bangunan yang diminta oleh Badan Gizi Nasional (BGN) pusat.

 

“Kita bangun dapur MBG itu sesuai spesifikasi dan luasan yang diminta BGN pusat,” ujar Eko, Selasa (26/5/2026).

 

Menurutnya, terkait penggunaan material seperti kayu maupun bahan lainnya, tidak diatur secara rinci oleh BGN. Ia menyebut pihaknya tetap mengedepankan struktur yang kuat dengan kombinasi beton dan kayu.

 

“Terkait kayu dan bahan lain dalam pembangunan tersebut tidak diatur langsung oleh BGN. Bahkan pembangunan dapur MBG kami juga menggunakan beton,” katanya.

 

Namun demikian, berdasarkan gambar bestek dan dokumen teknis yang beredar, sejumlah item konstruksi disebut secara jelas mencantumkan penggunaan kayu kelas I atau kayu Belian sebagai material utama bangunan.

 

Dalam spesifikasi tersebut tertulis penggunaan:

 

Tiang badan bangunan kayu kelas I ukuran 8×8 cm,

 

Balok gelagar induk kayu kelas I,

 

Pondasi kayu Belian,

 

Hingga alas dan laci kayu Belian sebagai struktur utama bangunan.

Baca Juga:  Buka Puasa Bersama Media, Dirut Bank Kalbar Harap Ramadan Jadi Bulan Keberkahan

 

 

Sorotan masyarakat pun semakin menguat lantaran material kayu yang digunakan vendor di lapangan dinilai tidak sesuai dengan kualitas sebagaimana tercantum dalam RAB proyek.

 

Sumardi, salah seorang warga setempat, menilai pekerjaan vendor terkesan asal-asalan dan tidak mengutamakan mutu material sebagaimana mestinya.

 

“Di dalam RAB dan gambar kerja jelas mengutamakan kayu kelas I atau Belian. Tapi kenyataan di lapangan masyarakat melihat kayu yang dipakai diduga tidak sesuai spesifikasi kontrak. Ini yang menjadi pertanyaan warga,” ujar Sumardi.

 

Ia mengatakan, penggunaan material yang diduga tidak sesuai standar dikhawatirkan dapat mempengaruhi kualitas dan ketahanan bangunan dalam jangka panjang, terlebih kondisi wilayah Kapuas Hulu yang memiliki tingkat kelembaban tinggi dan sebagian kawasan rawa.

 

“Kalau bangunan pemerintah apalagi program nasional seperti MBG, seharusnya kualitas material benar-benar diperhatikan. Jangan sampai pekerjaan terkesan asal jadi,” tegasnya.

 

Meski mendapat sorotan, pihak pelaksana memastikan pembangunan dapur MBG tersebut masih dalam tahap pengerjaan dan progresnya disebut telah mencapai sekitar 90 persen.

 

“Sekarang masih tahap finishing seperti tangga dan instalasi listrik,” kata Eko.

 

Masyarakat berharap Badan Gizi Nasional (BGN) maupun instansi teknis terkait dapat melakukan pengecekan langsung terhadap kualitas material dan kesesuaian pekerjaan di lapangan agar pembangunan dapur MBG benar-benar sesuai standar yang telah ditetapkan dalam kontrak dan spesifikasi teknis proyek.

 

(Redaksi)

Berita Terkait

SPBU 66.0624 Diduga Jadi Sarang Mafia Solar Subsidi, Awak Media Temukan Mobil Angkut Jeriken Keluar Masuk Bebas
Diduga Jadi “Penguasa Proyek” di Desa Sendiri, Kades Terentang Hilir Disorot Proyek Jalan APBD Rp396 Juta Diduga Bermasalah
Laporan dugaan pencemaran nama baik Hadi Mulyani di duga di beku kan Penyidik polres Melawi, propam Polda harus turun tangan*
Kinerja Kapolres Sekadau Dipertanyakan, Dugaan Maraknya PETI dan Penadah Emas Ilegal di Kabupaten Sekadau Kian Marak Tanpa Ada Tindakan Tegas APH
Kepsek jadi Tumbal Program MKKS, 2.5 juta Dana BOS Rela di Gelontorkan
Klarifikasi Tegas BBM Olahan Oli Bekas Milik Pemuda Mempawah Bukan “Solar Palsu”, Melainkan Bahan Bakar Alternatif untuk Nelayan
Diduga Jual Solar Subsidi Rp13 Ribu Per Liter, Pengawas SPBU Jerora Satu Sintang Bungkam 
Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Tegaskan Tindak Tegas Dugaan Penyimpangan Distribusi BBM di Kalimantan Barat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:21

SPBU 66.0624 Diduga Jadi Sarang Mafia Solar Subsidi, Awak Media Temukan Mobil Angkut Jeriken Keluar Masuk Bebas

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:14

Diduga Jadi “Penguasa Proyek” di Desa Sendiri, Kades Terentang Hilir Disorot Proyek Jalan APBD Rp396 Juta Diduga Bermasalah

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:26

Laporan dugaan pencemaran nama baik Hadi Mulyani di duga di beku kan Penyidik polres Melawi, propam Polda harus turun tangan*

Jumat, 29 Mei 2026 - 04:27

Kinerja Kapolres Sekadau Dipertanyakan, Dugaan Maraknya PETI dan Penadah Emas Ilegal di Kabupaten Sekadau Kian Marak Tanpa Ada Tindakan Tegas APH

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:07

Pelaksana Bantah Pembangunan Dapur MBG Desa Nanga Dua Tidak Sesuai Standar, Warga Soroti Dugaan Material Kayu Tak Sesuai RAB

Senin, 25 Mei 2026 - 05:54

Klarifikasi Tegas BBM Olahan Oli Bekas Milik Pemuda Mempawah Bukan “Solar Palsu”, Melainkan Bahan Bakar Alternatif untuk Nelayan

Senin, 25 Mei 2026 - 05:08

Diduga Jual Solar Subsidi Rp13 Ribu Per Liter, Pengawas SPBU Jerora Satu Sintang Bungkam 

Senin, 25 Mei 2026 - 04:53

Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Tegaskan Tindak Tegas Dugaan Penyimpangan Distribusi BBM di Kalimantan Barat

Berita Terbaru