Bongkar Mafia Pasca Panen di BBPP Bojong Picung, Petani Jadi Alat Komersial Terselubung

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026 - 14:29

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cianjur, Jalurkhusus.com – Dari hasil konfirmasi Lembaga Investigasi Negara dan awak media ke Kantor  BBPP (BALAI  BENIH PADI dan PALAWIJA) di cianjur pada Jum’at (27/05/2026), ditemukan sejumlah keterangan yang menohok.

Saat Lembaga Investigasi Negara yang dipimpin Ependi mempertanyakan berapa tonase padi  yang disetor oleh petani ke BBPP saat musim panen besar tiba dan bila dikonversi menjadi uang, berapa target yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk lahan seluas 234 hektar tersebut.

Delapan ratus (800) orang petani yang tercatat sebagai pengelola tanah milik provinsi Jawa Barat, dapat dikatakan sangat terzolimi akan kebijakan Kepala BBPP selama ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut kejelasan Indra sebagai Humas BBPP saat dikonfirmasi mengatakan semua itu sudah hasil kesepakatan antara petani dan BBPP terdahulu.

Saat dimintai penjelasan juga terkait besaran setoran hasil panen petani, target pendapatan yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga mekanisme pengelolaan hasil panen dari lahan seluas 234 hektare tersebut, pihak BBPP dinilai belum mampu memberikan keterangan yang rinci dan komprehensif.

Padahal, jika dihitung dari luas lahan yang dikelola serta jumlah petani yang mencapai sekitar 800 orang, nilai ekonomi hasil panen yang masuk setiap musimnya diduga mencapai angka yang sangat besar.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai transparansi pengelolaan hasil pertanian dan aliran pendapatan yang bersumber dari setoran para petani.

Dari sejumlah keterangan yang dihimpun, terdapat dugaan selisih yang cukup signifikan antara hasil setoran petani dengan informasi yang disampaikan kepada publik.

Ironisnya, para petani yang selama ini menggantungkan hidupnya sepenuhnya dari sektor pertanian berada dalam posisi yang lemah. Mereka tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan keberatan dan seolah terisolasi di tengah sistem yang seharusnya memberikan perlindungan.

Baca Juga:  Sekda Endin di Periksa KPK, Terkait Kasus Ijon Proyek Senilai 14 Milliar

“Petani hanya ingin kejelasan. Mereka bekerja, menanam, memanen, dan menyetor hasilnya. Namun ketika muncul pertanyaan mengenai transparansi pengelolaan, jawaban yang diperoleh justru tidak memberikan kepastian,” ujar Ependi.

Karena itu, negara harus hadir. Pemerintah Provinsi Jawa Barat jangan tutut mata melihat kondisi para petani di jawa barat, perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola BBPP agar tidak muncul dugaan adanya ketidaksesuaian data maupun potensi kerugian terhadap para petani penggarap.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, juga didorong untuk memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini. Apabila terdapat perbedaan data, ketidaksesuaian laporan, maupun indikasi manipulasi administrasi dalam pengelolaan BBPP, maka seluruh fakta harus dibuka secara transparan kepada publik.

Lembaga Investigasi Negara bersama awak media meminta aparat penegak hukum, khususnya Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk melakukan penelusuran dan pendalaman terhadap pengelolaan BBPP Provinsi Jawa Barat. Langkah tersebut dinilai penting guna memastikan tidak ada penyalahgunaan kewenangan, manipulasi data, maupun dugaan tindak pidana korupsi yang berpotensi merugikan petani dan keuangan daerah.

Sebab persoalan ini bukan sekadar soal angka dan laporan administrasi, melainkan menyangkut nasib ratusan petani yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan Jawa Barat. Setiap rupiah yang berasal dari hasil kerja petani harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka, transparan, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Berita Terkait

Joni Iskandar Ucapkan Selamat atas Pelantikan AKP Ambril sebagai Kasat Reskrim Polres Kubu Raya
Diduga Timbulkan Bau Menyengat, Limbah Cair di Sekitar Bebek Boedjang Dikeluhkan Warga, Pihak Pengelola Sebut DLK Sudah Tinjau Lokasi
Pembagian Bantuan KPM di Desa Teluk Empening Disorot Warga, Diduga Tidak Transparan
Dugaan Aktivitas PETI Kembali Marak di Nanga Taman Sekadau, inisial KK kordinator lama kembali
Viral Dugaan Bandar Narkoba Baku Hantam dan Terdengar Penembakan di Gang Angket, Polisi Beri Respons
SPBU 66.0624 Diduga Jadi Sarang Mafia Solar Subsidi, Awak Media Temukan Mobil Angkut Jeriken Keluar Masuk Bebas
Diduga Jadi “Penguasa Proyek” di Desa Sendiri, Kades Terentang Hilir Disorot Proyek Jalan APBD Rp396 Juta Diduga Bermasalah
Laporan dugaan pencemaran nama baik Hadi Mulyani di duga di beku kan Penyidik polres Melawi, propam Polda harus turun tangan*
Berita ini 0 kali dibaca
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:57

Joni Iskandar Ucapkan Selamat atas Pelantikan AKP Ambril sebagai Kasat Reskrim Polres Kubu Raya

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:35

Diduga Timbulkan Bau Menyengat, Limbah Cair di Sekitar Bebek Boedjang Dikeluhkan Warga, Pihak Pengelola Sebut DLK Sudah Tinjau Lokasi

Rabu, 3 Juni 2026 - 05:43

Pembagian Bantuan KPM di Desa Teluk Empening Disorot Warga, Diduga Tidak Transparan

Senin, 1 Juni 2026 - 14:29

Bongkar Mafia Pasca Panen di BBPP Bojong Picung, Petani Jadi Alat Komersial Terselubung

Senin, 1 Juni 2026 - 11:09

Dugaan Aktivitas PETI Kembali Marak di Nanga Taman Sekadau, inisial KK kordinator lama kembali

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:21

SPBU 66.0624 Diduga Jadi Sarang Mafia Solar Subsidi, Awak Media Temukan Mobil Angkut Jeriken Keluar Masuk Bebas

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:14

Diduga Jadi “Penguasa Proyek” di Desa Sendiri, Kades Terentang Hilir Disorot Proyek Jalan APBD Rp396 Juta Diduga Bermasalah

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:26

Laporan dugaan pencemaran nama baik Hadi Mulyani di duga di beku kan Penyidik polres Melawi, propam Polda harus turun tangan*

Berita Terbaru