Ikan Impor Berdampak Bagi Para Nelayan Di Kalbar : Bertahan Di Tengah Persaingan

- Penulis

Sabtu, 22 Maret 2025 - 15:23

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUBU RAYA | Jalurkhusus.com – Para nelayan di Kubu Raya, Kalimantan Barat, menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya ikan frizen pacific mackerel atau biasa disebut ikan salem yang di impor di pasaran. Kondisi ini membuat harga ikan lokal anjlok, mengancam kesejahteraan nelayan, dan menimbulkan keresahan di kalangan pelaku usaha perikanan.

Bendahara DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kubu Raya, Busra Abdullah, mengungkapkan bahwa kehadiran ikan impor berdampak negatif terhadap keberlanjutan usaha nelayan setempat. Menurutnya, tanpa kebijakan yang melindungi hasil tangkapan lokal, nelayan akan semakin kesulitan untuk bertahan.

“Nelayan kita masih membutuhkan dukungan dalam hal penampungan hasil tangkapan. Jika impor terus membanjiri pasar, harga ikan lokal pasti tertekan, dan daya beli masyarakat terhadap ikan lokal pun menurun,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain menyoroti dampak ekonomi, Busra juga mempertanyakan aspek kesehatan ikan impor yang umumnya berbentuk produk beku dan mengandung bahan pengawet. Ia mendesak pemerintah untuk lebih memprioritaskan pemberdayaan nelayan lokal daripada bergantung pada pasokan dari luar negeri.

“Barang impor ikan ini apakah standar kesehatannya bisa dijamin, karena barang belum yang menggunakan barang pengawet dan sebagainya, ” tanyanya.

Dirinya berharap kepada pemerintah kalaupun memang impor itu menjadi salah satu strategi untuk menstabilkan ekonomi negara. Paling tidak ada aturan-aturan ketat yang harus dipenuhi.

Baca Juga:  Pengundian Nomor Urut Pilkada Kubu Raya 2024, Paslon H. Rusman Ali – Mochammad Fahri Dapatkan Nomor Urut 3, Rusman Ali: " Saya membangun Kubu Raya lebih baik lagi"

“Mulai dari standar kesehatan, kemudian daya beli pasar, jangan sampai menggagu stabilitas pasar lokal. Nah kita minta pemerintah lebih fokus ke situ,” tutupnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Bujang Ramalun, seorang pedagang ikan di Kubu Raya. Ia menyoroti kehadiran ikan impor, seperti ikan Salim, yang masuk dalam jumlah besar dan menjatuhkan harga ikan hasil tangkapan nelayan setempat.

“Kami sebagai pedagang memang tidak terlalu terdampak, tapi kasihan para nelayan. Harga ikan impor lebih murah, sementara nelayan kita harus menghadapi biaya operasional tinggi, termasuk harga BBM yang mahal,” ungkapnya.

Bujang berharap pemerintah daerah dan pusat segera mengambil langkah konkret untuk membatasi impor ikan agar nelayan kecil tidak semakin terpuruk.

Berdasarkan informasi ikan impor tak hanya dari luar negeri, ikan dari provinsi lain seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah juga masuk ke pasaran di Wilayah Kalimantan Barat, memperketat persaingan dengan produk lokal.

Para nelayan kini berharap pemerintah segera mengambil tindakan tegas demi melindungi keberlanjutan usaha mereka. Jika tidak ada kebijakan yang berpihak kepada nelayan, dikhawatirkan banyak di antara mereka yang akan kehilangan mata pencaharian dan beralih ke sektor lain demi bertahan hidup.

(Teja)

Berita Terkait

Anggaran SILTAP Sintang tak kunjung cair: Kades Gandis hulu pertanyaaakan sebab nya?
Diam-diam ASN Khusus Dispenda Dapat Insentif Sebesar 330 Juta per-tahun, LIN: Masyarakat Bekasi Wajib tahu
Rp.66 Miliar Insentif Dispenda Bekasi Dipersoalkan, Aktivis Minta Transparansi
PTUN Pontianak Lanjutkan Sidang Sengketa Tanah yang Digugat Ahli Waris, Putusan PK MA Dipertanyakan Keasliannya
Desa Digital Diduga jadi Ladang Korupsi Oknum Kades,  Barang Bobrok dibeli, Perintah Siapa??
Bubarkan Inspektorat..!, Puluhan Miliar Anggaran diserap, Hasil Kerja Nihil
PPG dan IASH Berkolaborasi Tingkatkan Pengalaman Bagi Penumpang Pesawat di Bandara
SPBU 64.781.21 Dr Wahidin Pontianak Sampaikan Klarifikasi Resmi Bantah Isu Penyaluran Solar ke Mafia BBM
Berita ini 0 kali dibaca
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Rabu, 4 Maret 2026 - 06:54

Anggaran SILTAP Sintang tak kunjung cair: Kades Gandis hulu pertanyaaakan sebab nya?

Rabu, 25 Februari 2026 - 02:28

Diam-diam ASN Khusus Dispenda Dapat Insentif Sebesar 330 Juta per-tahun, LIN: Masyarakat Bekasi Wajib tahu

Selasa, 24 Februari 2026 - 12:35

Rp.66 Miliar Insentif Dispenda Bekasi Dipersoalkan, Aktivis Minta Transparansi

Selasa, 24 Februari 2026 - 10:45

PTUN Pontianak Lanjutkan Sidang Sengketa Tanah yang Digugat Ahli Waris, Putusan PK MA Dipertanyakan Keasliannya

Senin, 23 Februari 2026 - 01:00

Desa Digital Diduga jadi Ladang Korupsi Oknum Kades,  Barang Bobrok dibeli, Perintah Siapa??

Senin, 16 Februari 2026 - 09:21

PPG dan IASH Berkolaborasi Tingkatkan Pengalaman Bagi Penumpang Pesawat di Bandara

Senin, 16 Februari 2026 - 02:19

SPBU 64.781.21 Dr Wahidin Pontianak Sampaikan Klarifikasi Resmi Bantah Isu Penyaluran Solar ke Mafia BBM

Jumat, 13 Februari 2026 - 11:09

Mudik Gratis BUMN 2026 Berangkatkan Lebih dari 100 Ribu Pemudik

Berita Terbaru