RSUD Soedarso Diusut: Pasien ASKES Tuntut Keadilan, Sistem Administrasi Diduga Tidak Transparan

- Penulis

Selasa, 25 Februari 2025 - 08:43

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pontianak | Jalurkhusus.com – Seorang pasien peserta ASKES mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap pelayanan dan sistem administrasi RSUD Soedarso, Pontianak. Kejadian yang terjadi pada Senin, 24 Februari 2024, memicu pertanyaan serius mengenai keadilan dan transparansi penanganan pasien di rumah sakit tersebut. Pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan di ruangan PPT Kelas 1 justru harus menunggu, sementara pasien lain dari Kelas 2 telah ditempatkan lebih dulu.

Menurut keterangan RM, anak pasien, pihaknya mempertanyakan, “Saya tanya ke petugas administrasi, kenapa pasien Kelas 2 bisa masuk ke Kelas 1 lebih dulu, sedangkan ibu saya yang memang peserta Kelas 1 malah tidak bisa langsung masuk?” Pernyataan ini mengungkapkan ketidakpuasan yang mendalam dan menimbulkan tanda tanya besar di benak masyarakat.

Saat dikonfirmasi, petugas administrasi hanya menjawab bahwa pasien Kelas 2 tersebut telah lebih dulu “membooking” ruangan. Namun, ketika diminta penjelasan lebih lanjut mengenai sistem booking tersebut, pihak RSUD Soedarso gagal memberikan bukti valid atau keterangan yang meyakinkan. Kejanggalan ini semakin memperkeruh suasana, menimbulkan pertanyaan: Apakah benar ruangan rawat inap dapat dibooking sebelumnya? Jika iya, mengapa sistemnya tidak transparan dan mengutamakan keadilan bagi pasien?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya itu, isu ini juga membuka tabir dugaan adanya ketidakwajaran dalam sistem administrasi RSUD Soedarso. Masyarakat yang hadir pun mempertanyakan mengapa pasien yang sudah ada di Instalasi Gawat Darurat (UGD) tidak mendapatkan prioritas, sedangkan pasien yang datang dari rujukan luar, yang katanya sudah mendapatkan persetujuan, malah ditempatkan lebih cepat. Jika ada aturan baru terkait pemesanan ruangan, mengapa belum ada sosialisasi yang jelas kepada publik?

Baca Juga:  Proyek Cor jalan gang Anggaran Apbd di desa parit baru sangat miris dan merah

Menanggapi kericuhan ini, Hary Agung Tjahyadi, Direktur RSUD dr. Soedars, memberikan penjelasan melalui telepon WhatsApp pada Selasa (25/2/2025). “Pasien sebenarnya akan segera dipindahkan dari IGD setelah dilakukan pemeriksaan penunjang dan diagnosis oleh dokter penanggung jawabnya,” ujar Hary Agung. Ia menambahkan, jika ruang rawat inap kosong, pasien akan langsung dipindahkan. Namun, apabila ruangan penuh, pasien harus menunggu hingga ada ruang yang tersedia.

Direktur RSUD juga menegaskan bahwa rumah sakit tidak hanya menerima pasien dari IGD, tetapi juga pasien yang dirujuk dari rumah sakit lain melalui sistem perujukan terpadu. “Pasien yang datang dari rumah sakit lain sudah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan, sehingga bisa saja mereka mendapatkan ruang rawat inap lebih cepat meskipun baru tiba di RSUD Soedars,” jelas Hary Agung.

Lebih lanjut, Hary Agung mengungkapkan bahwa ruang-ruang intensif dan ruang perawatan tertentu sengaja dikosongkan atau “dijagakan” untuk pasien yang sedang dalam persiapan operasi, meskipun tampak kosong bagi mata publik. Ia menambahkan, “Kapasitas tempat tidur kami terbatas, dan dengan tingkat pemanfaatan mencapai 84 persen—jauh lebih tinggi daripada rata-rata 60-70 persen di rumah sakit swasta—situasi ini semakin diperparah oleh peningkatan jumlah pasien dari tahun ke tahun.”

Hary Agung juga mengimbau perlunya dukungan lebih lanjut dari rumah sakit lain, baik swasta maupun daerah, untuk meringankan beban RSUD Soedars yang saat ini hampir seluruh pasien BPJS tertumpu di sana.

(Teja)

Berita Terkait

LIN Minta Permasalahan 120 Miliar Insentif di Bapenda Dibuka Secara Terang Benderang, Siapa Penikmat Pajak Rakyat yang Sesungguhnya
Tim Investigasi Jejak Hukum Kalbar Siap Giring Kasus MBG SDN 71 ke Pusat, Dugaan Makanan Tak Layak Konsumsi Jadi Sorotan
Puluhan Miliar Menguap, Fungsi Pengawasan Dipertanyakan, LIN Usul Inspektorat Dibubarkan
Dalih “Hanya Titipan” Dipertanyakan, Toko Erajaya Bike Diduga Rutin Jual LPG Subsidi Rp28 Ribu Tanpa Plang Resmi
Dugaan Keterlibatan Kapolsek dalam Aktivitas PETI di Nanga Taman Sekadau Mencuat,Kapolres tutup Mata
Sangat Menyetuh hati Ilham Yang Alami lumpuh Sejak kecil,Kini Butuh Uluran Tangan Kita semua
Di Tengah Kasus Emas Ilegal Bengkayang, Sosok AP Diduga Kebal Hukum
PETI Aktif di Semerangkai Tidak Sesuai Fakta Tim Temukan Lanting Hanya Terparkir, Tidak Ada Aktivitas Penambangan
Berita ini 1 kali dibaca
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 13:12

LIN Minta Permasalahan 120 Miliar Insentif di Bapenda Dibuka Secara Terang Benderang, Siapa Penikmat Pajak Rakyat yang Sesungguhnya

Selasa, 21 April 2026 - 06:04

Tim Investigasi Jejak Hukum Kalbar Siap Giring Kasus MBG SDN 71 ke Pusat, Dugaan Makanan Tak Layak Konsumsi Jadi Sorotan

Minggu, 19 April 2026 - 12:33

Puluhan Miliar Menguap, Fungsi Pengawasan Dipertanyakan, LIN Usul Inspektorat Dibubarkan

Selasa, 14 April 2026 - 05:20

Dalih “Hanya Titipan” Dipertanyakan, Toko Erajaya Bike Diduga Rutin Jual LPG Subsidi Rp28 Ribu Tanpa Plang Resmi

Senin, 13 April 2026 - 11:41

Dugaan Keterlibatan Kapolsek dalam Aktivitas PETI di Nanga Taman Sekadau Mencuat,Kapolres tutup Mata

Minggu, 5 April 2026 - 13:31

Di Tengah Kasus Emas Ilegal Bengkayang, Sosok AP Diduga Kebal Hukum

Jumat, 3 April 2026 - 16:59

PETI Aktif di Semerangkai Tidak Sesuai Fakta Tim Temukan Lanting Hanya Terparkir, Tidak Ada Aktivitas Penambangan

Rabu, 1 April 2026 - 13:04

Kadis Kominfo Lambar Buka Suara Soal Isu Larangan Kendaraan Plat Luar di Area Pemda

Berita Terbaru